Sen. Jul 15th, 2024

Menyikapi Fenomena Global Warming

3 min read

Ahli glasiologi Dr Tristram Irvine-Fynn mengatakan “Dibutuhkan penelitian lebih lanjut. Selama beberapa dekade mendatang, ramalan ‘peak water‘ (berkurangnya ketersediaan air) dari gletser gunung-gunung di bumi berarti kita perlu meningkatkan pemahaman kita tentang keadaan dan nasib ekosistem (ini). Dengan pemahaman yang lebih baik tentang gambaran itu, kita dapat memprediksi efek perubahan iklim dengan lebih baik pada permukaan glasial dan biogeokimia daerah resapan air.”

Kutub adalah Ekosistem tersendiri

Sepenggal kalimat dari Dr Tristram Irvine- Fynn diatas jelas bukan omong kosong semata. Melelehnya es di kutub kutub bumi adalah hal yang serius. Kutub bukanlah sekedar cadangan air bumi seperti yang selama ini kita kira. Meski suhunya amat rendah tetap ada mikroba yang hidup disana. Membentuk suatu habitat alami yang jika es esnya meleleh maka otomatis berbagai macam mikroba itu akan turut mengalir. Mencemari lautan menyatu dan menguap menjadi awan. Kemudian Kembali turun menjadi hujan, diserap akar akar menjadi mata air yang muncrat dari himpitan bebatuan. Terus mengalir menjadi sungai sungai dan berakhir dengan keran air manusia. Bisa dibayangkan betapa kerosifnya hal ini. Air yang dikonsumsi manusia yang terlihat bening ternyata mengandung banyak mikroorganisme berbahaya.

Semua ini tidaklah lepas dari pemanasan global yang terus menerus terjadi selama ini. Efek rumah kaca, asap asap limbah industri, alat-alat rumah tangga yang mengandung CFC mencemari udara, mengendap di atmosfer dan membuat panas matahari yang sampai dibumi tak dapat dipantulkan kembali keluar angkasa. Walhasil suhu dipermukaan bumi semakin tinggi dan berimbas pada temperatur udara rata rata yang meningkat dan kemungkinan pelelehan gletser es semakin besar. Lapisan ozon yang berfungsi sebagai mantel pelindung bumi tembus berlubang. Jika suatu saat meteor besar menggesek atmosfer maka bukan bintang jatuh yang akan kita lihat tapi sebuah lubang menganga besar di kerak bumi.

Perlu Adanya Penanganan Lebih Lanjut

Jostein Gaarder seorang novelis dan filsuf barat menjadikan global warming sebagai tema utama novel novelnya. Dia menggambarkan begitu jelas kondisi bumi ketika pamanasan global telah mencapai puncaknya. Hewan hewan dan tumbuhan yang beraneka ragam akan musnah. Menyisakan daerah selatan bumi yang gersang dan tak dapat ditinggali sementara daerah di utara katulistiwa akan mengalami musim dingin berkepanjangan. Membayangkan 50 tahun kedepan anak cucu kita hidup dimasa yang sekelam itu apakah kita tega? Suatu masa dimana bahan bakar fosil telah begitu sedikit dan bahan makanan hanya tinggal segelintir.

Nah, maka dari itu perbaikan kondisi perlu kita mulai dari kini. Mewariskan dunia yang lebih baik adalah tugas kita semua. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi kerusakan bumi ini. Yakni dengan mulai memperhatiakan alam sekitar. Dengan benar benar menegakkan hukum dan merawat alam secara benar. Dengan begitu hutan yang berfungsi sebagai penyaring karbon akan berkerja dengan  baik.

Limbah limbah yang mencemari sungai, sisa sisa rumah tangga yang membentuk gunungan gunungan sampah bau dikelola lagi. Dan kerjasama antar generasi dikuatkan. Jika penguatan kerjasama antar negara dalam keamanan perang saja bisa lalu dalam menjaga dunia mengapa tidak?. Meskipun butuh konsentrasi lebih untuk memulai semuanya. Jika dana besar yang dikantongi pemerintah 5% saja dialokasikan untuk pengolahan limbah di negri ini maka bukannya tidak mungkin negri ini tampak lebih baik. Selain itu masing masing individu perlu menanamkan sifat cinta lingkungan dan oraganisai organisasi pecinta lingkungan dikuatkan.

Semoga satu permasalahan konkret ini segera teratasi demi keberlangsungan hidup umat manusia di masa mendatang .

Cara lainnya yakni dengan memberikan apresiasi kepada orang orang terkait. Memberikan pengayoman yang memadai kepada petugas kebersihan lingkungan pula mengaktifkan secara maksimal TPA-TPA yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

Ni’matul Khoiriyah

Mahasiswi Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan, Jurusan PAI-ICP (International Class Program) Tarbiyah sekaligus Anggota Aliansi Jurnalis Mahasiswi IDIA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.