Sen. Jul 15th, 2024

Doa dalam Tradisi Pendidikan Pesantren

3 min read

Lembaga pendidikan pesantren selain sebagai budaya khas Indonesia, ia juga merupakan representasi pendidikan agama Islam. Karenanya, proses pendidikan di pesantren tidak pernah luput dari ajaran Islam. Maka tidak salah jika disimpulkan bahwa pesantren merupakan benteng pertahanan terakhir melawan upaya penggerusan pendidikan Islam di Indonesia.

Salah satu tradisi pesantren yang dasarnya merupakan ajaran Islam adalah pembacaan doa setiap kali akan melaksanakan suatu kegiatan pembelajaran. Artinya, sebelum proses pembelajaran dimulai, masyarakat pesantren sadar bahwa pendidikan yang baik adalah pendidikan yang didasari keimanan kepada Allah, suatu pengharapan dan perendahan diri di hadapan yang maha tinggi.

Masalahnya saat ini, doa tidak lagi dianggap sebagai suatu hal penting. Tidak dianggap sebagai suatu kebutuhan, apalagi dianggap sebagai suatu dasar proses pendidikan Islam yang nantinya mengerucut pada ketauhidan.

Selain itu, masyarakat sudah menganggap doa pelengkap seromonial dalam suatu hajatan atau acara saja. Doa kehilangan sakralitasnya. Bahkan jika ditarik lebih jauh, doa kalah sakral jika dibanding sambutan para tokoh.

Bagi masyarakat pesantren, doa bukan hanya semata-mata tradisi yang lahir kemudian, tetapi merupakan tradisi yang ada sejak zaman Nabi Adam. Orang-orang terdahulu sangatlah mementingkan arti sebuah doa. Pada masa itu, doa dijadikan sebagai kebutuhan paling utama dibandingkan segalanya. Doa dijadikan sebagai pokok ibadah sebagai bentuk kepasrahan dan adab kepada kepada Allah SWT.

Untuk membaca urgensi doa tersebut dapat dilacak dalam beberapa hadis dan Alquran. Misalnya disampaikan dalam hadist, bahwa doa merupakan senjata orang beriman, doa merupakan pokoknya ibadah. Kemudian di dalam Alquran disampaikan tentang adab berdoa. “Berdoalah kepada Tuhanmua dengan berendah diri dan suara yang lembut, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-A’raf [7]: 55).

Era Disrupsi dan Profanisasi Doa

Saat ini kita perlu prihatin atas kondisi segelintir orang yang menganggap doa telah diwakili oleh kecanggihan teknologi. Menurut mereka, doa hanyalah pembohongan public semata. Mereka yang berdoa hanya melakukan kesemuan. Doa tidak memberikan apa-apa kecuali harapan.

Padahal, doa memiliki martabat yang tinggi, sehingga ia memiliki banyak keutamaan yang jarang diketahui. Ibnu Hajar mengatakan, bahwa ada beberapa manfaat besar yang diperoleh oleh orang yang berdoa. Pertama, orang yang berdoa tidak akan kecewa sama sekali. Sebab jika takdirnya bergantung pada doanya, maka ia akan melihat hasil doanya. Nabi SAW bersabda: doa dapat mengubah takdir (HR. Al-Hakim). Tidak akan bermanfaat kewaspadaan terhadap takdir, akan tetapi doa bermanfaat pada takdir yang telah turun dan takdir yang belum turun, maka berdoalah! (HR. Ahmad, At-Tabrani dan Mu’adz r.a).

Namun, jika takdir yang ia alami tidak bergantung kepada doa yang telah ia panjatkan, maka manfaat doanya adalah memperoleh pahala. Karena doa adalah inti dari sebuah ibadah. Semakin banyak seseorang beribadah, semakin dekat dia dengan Allah.

Rasulullah SAW telah banyak memberikan uswatun hasanah sebagai pedoman yang dapat ditiru dan diamalkan. Namun, seringkali kita abaikan begitu saja. Rasulullah selalu berdoa dalam setiap urusan beliau. Rasulullah juga bersabda: “mohonlah kepada Allah seluruh kebutuhanmu sampai masalah garam”. (HR. al-Baihaqi dari Bakr bin Abdullah al-muzanni).

Jika era disrupsi saat ini sudah banyak memberikan kemudahan dan dapat mewujudkan banyak harapan, bukan berarti doa tidak penting. Doa merupakan identitas seorang hamba yang melihat dirinya sebagai hamba. Seorang hamba yang tidak berdoa sesengguhnya sangat dibenci Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah, “orang yang tidak memohon (berdoa) kepada Allah, Allah akan membencinya”. (HR. at-Tirmidzi).

Adab Sebelum Ilmu; Adab Sebelum Doa

Ada satu adagium pesantren bahwa seseorang boleh berilmu tapi sebelum itu dia harus beradab. Demikian juga dengan berdoa, sebelum doa ada adabnya. Diantara adab-adab sebelum berdoa doa adalah seluruh makanan, minuman dan pakaian harus berasal dari yang halal baik dari segi memperolehnya maupun dari segi pengkonsumsiannya. Hadits menhikayatkan bagaimana Nabi memberi peringatan tegas akan yang demikian, yakni tentang seorang laki-laki yang telah menempuh perjalanan jauh, berambut kusut, penuh dengan debu. Dia menengadah tangannya ke langit dan berkata: “Ya Rabb”, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, dan dikeyangkan dengan barang haram, maka bagaimana ia akan diterima doanya.

Doa dalam tradisi pesantren salah satunya untuk membiasakan adab. Bahwa sebelum belajar, seseorang membersihkan dirinya dari rasa sombong, pongah terhadap guru, dan meremehkan pelajaran. Termasuk merasa diri paling benar dalam berdiskusi. Karena dalam doa juga disampaikan agar tidak memaksa kepada Allah. 

Sejatinya doa dalam tradisi pendidikan pesantren memiliki dua dimensi. Dimensi pertama adalah dimensi tauhid. Kedua dimensi pendidikan. Artinya, doa dapat merupakan sarana untuk bertauhid, sekaligus sebagai sarana pendidikan. Jika pendidikan melupakan ini. Maka pendidikan akan segera kehilangan kontribusinya. Wallahu a’lam.

Nur Lathifah Aini, Mahasiswa semester I PAI IDIA Prenduan, anggota Aliansi Jurnalis Muda IDIA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.