Sen. Jul 15th, 2024

Kelas Bercerita dan Budaya Literasi Santri

4 min read

sumber gambar: Belapendidikan.com

Sebagai salah satu tenaga pendidik di pondok pesantren yang terletak di ujung timur Pulau Garam, ada beberapa pengalaman baru sekaligus tantangan yang harus saya hadapi. Salah satunya dengan  memberikan rasa nyaman kepada para santri (siswa) baru yang masih sangat asing dan belum akrab dengan dunia pesantren.

Tentu, pesantren merupakan dunia baru dalam kehidupan mereka yang belum sepenuhnya mereka ketahui dan fahami secara betul. Disinilah salah satu masa-masa yang cukup menantang dalam hidup saya sebaga pendidik atau guru pengabdian baru yang dihadapkan dengan santri atau siswa baru yang belum sepenuhnya bisa move on dari hiruk pikuk suasana kehidupan rumah.

Berbagai pendekatan mulai saya coba, diantaranya dengan melakukan pola pendekatan face to face dengan mereka. Memanggil mereka satu persatu, menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan pribadi dan privasi mereka, seperti alasan mengapa memilih untuk nyantri, latar belakang kehidupan keluarga dan yang paling penting bagaimana perasaan dan kondisi psikologis mereka setelah melalui hari-hari menjadi seorang santri.

Jawaban mereka pun beragam, ada menjawan dengan ceria tanpa sedikitpun beban terlihat di matanya, ada yang menjawab dengan wajah datar tanpa ekspresi . Namun, itu sudah cukup untuk menjelaskan apa yang melanda dan bagaimana suasana hati mereka.

Ada pula yang menjawab dengan dengan isyarat yang tak disampaikan oleh lisan akan tetapi melalui tangisan. Semakin saya mencoba mengubernya dengan pertanyaan-pertanyaan, semakin deras pula santri saya meneteskan air matanya. Dan itu tidak hanya terjadi pada seorang santri

Di tengah-tengah rasa kebingungan, saya teringat suatu hal bahwa ada beberapa macam bahasa yang digunakan oleh manusia. Diantaranya adalah bahasa lisan dan bahasa tulisan. Setelah mendapatkan hasil yang kurang memuaskan dengan bahasa lisan, saya mencoba peruntungan dengan memancing mereka melalui bahasa tulisan.

Disela-sela jam pelajaran, saya menyampaikan kepada mereka bahwa di setiap 10 menit menjelang berakhirnya pelajaran  ada kelas khusus yang sepakat kami sebut dengan “Kelas Bercerita” di sana saya mencoba sedikit memancing mereka dengan menyuruh mereka menuliskan pengalaman, perasaan atau pesan yang ingin mereka sampaikan dan ceritakan.

Hasilnya cukup mengejutkan, seorang siswa yang terlihat pendiam bahkan sangat irit untuk berbicara apalagi bercerita menuliskan sebuah tulisan yang mewakili seluruh perasaan yang berkecamuk dalam batinnya.

Dari sini saya menemukan sedikit inspirasi  bagaimana mengenal mereka lebih jauh tanpa membuat mereka malu apalagi takut untuk bertutur antar muka dengan saya. Saya bisa mengetahui perasaan yang tengah mereka rasa atau bahkan kesedihan dan kegalauan yang tengah melanda  mereka.  Cukup meminta mereka menuliskan sebuah catatan kecil yang berisi cerita-cerita atau pesan-pesan yang sebenarnya  ingin mereka utarakan namun ada rasa malu atau sungkan untuk bercerita.

Dari sini saya semakin merasa tergugah bahwa sebagai guru saya tidaklah cukup hadir di tengah mereka mentransfer ilmu ke dalam ranah intelektual mereka. Terkadang saya terlalu asyik dalam proses pengajaran dan sedikit melupakan esensi dari pengajaran, yaitu pendidikan.

Pendidikan bukan hanya sekedar proses tranformasi ilmu pengetahuan antar pendidik dan peserta didik akan tetapi sebuah proses membentuk pribadi-pribadi unggul untuk mengantarkan mereka kedalam kehidupan yang lebih baik dengan melibatkan seluruh ranah, baik jasmani, rohani dan spiritual.

Menciptakan pribadi-pribadi unggul yang siap untuk menatap kehidupan yang lebih baik tentu tidaklah cukup apabila hanya mengandalkan proses pembelajaran formal dengan metode ceramah yang lumrah diaplikasikan oleh beberapa tenaga ajar. Sudah saatnya para pelaku pendidikan membuka kesempatan kepada peserta didik untuk turut mewarnai proses pendidikan dan pengajaran. 

Tenaga didik juga dituntut untuk memahami karakteristis setiap peserta didik, membangun chemistry yang kuat antara keduanya dan juga mengenal masing-masing pribadi, menjalin kedekatan dan yang terpenting menciptakan rasa kenyamanan di luar ataupun di dalam kelas.

Kelas bercerita dapat menjadi salah satu bumbu penyedap dalam proses pendidikan di dalam kelas. Guru tidak lagi tampil sebagai penceramah dengan kata-kata yang menjadi senjata, peserta didik tidak lagi menjadi pendengar setia akan tetapi mereka juga memiliki hak untuk di dengar dan diapresiasi oleh tenaga didik.

Selain meminimalisir dominasi guru di dalam kelas, hal ini dapat juga membantu tenaga didik untuk menjalin kedekekatan yang lebih intens, membantu tenaga didik untuk lebih mengenal dan memahami watak dan pribadi masing-masing anggota didik dengan cerita-cerita dan tulisan-tulisan mereka. Sehingga tak ada lagi rasa malu apalagi rasa canggung diantara keduanya.

Dengan sendirinya juga, kelas bercerita menjadi stimulus untuk menumbuhkan budaya literasi di kalangan peserta didik. Melalui cerita dan curahan hati mereka dalam sebuah tulisan sederhana, tanpa mereka disadari mereka tengah membangun sebuah kebudayaan baru yakni budaya menulis.

Setelah budaya menulis menjadi teman akrab dalam kehidupan sehari-hari mereka, secara perlahan namun pasti budaya membaca akan segera mereka santab. Karena salah satu cara yang bisa mereka lakukan untuk memoles tulisan dan gaya bercerita adalah dengan membaca. Minimal mereka akan membaca hasil tulisan mereka sendiri.

Perpaduan antara budaya membaca, menulis yang kemudian menghasilkan  karya selain menumbuhkan dan melestarikan budaya literasi di kalangan siswa juga berimpilikasi terhadap terciptanya generasi belajar  (learning society). Sehingga esensi pendidikan yang ingin menyetak pribadi-pribadi unggul bisa terealisasikan dengan pasti.

Nur Holis, Wakil Ketua Aliansi Jurnalis Muda Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan (AJMI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.