Sel. Mei 28th, 2024

Mahasiswa UNIA Merawat Wisata Cantik di Area Senja

6 min read

Matahari perlahan tenggelam di jalan raya yang membelah tambak. Rumput tipis dan pohon yang meranggas, menjadi spot foto otomatis. Tak ada yang gagal berfoto di sini. Semua tampak indah, baik dengan pose duduk, berdiri, bersama maupun sendiri. Hanya saja sebagai lokasi yang bersahabat dengan manusia, ia gagal cantik. Bungkus makanan plastik bertuliskan bermacam merek berserakan bagai sampah selepas hajatan.

Tempat wisata ini akan lebih indah menjelang sore, sinar jingga turun di sini. Saat sore, para pedagang akan menempati lapak mereka masing-masing. Memenuhi sisi kiri dan kanan jalan, mereka memilih lapak yang paling strategis agar mendapatkan banyak pembeli. Menjelang sore jalanan di sekitar wisata Capak padat. Para muda-mudi akan singgah di tempat ini, sekedar berbincang dan berswa foto.

“Itulah sebabnya, kami memilih untuk beraksi di sini, kami memandang wisata Capak dapat menjadi potensi wisata yang lebih indah jika  bersih tanpa sampah,” ucap Wadi salah seorang mahasiswa praktikan KKN dari Universitas Al-Amien Prenduan.

Atas kondisi ini, sembilan mahasiswa Universitas Al-Amien Prenduan akhirnya memilih untuk menjernihkan tambak yang membelah jalan raya tersebut. Mereka bukan Pandawara, mereka praktikan KKN yang dibekali paradigma ABCD (Aset Based Community Develompment), suatu kegiatan pemberdayaan masyarakat dengan memanfaatkan potensi yang ada.

Keindahan senja di Capak saat sore hari
Sumber: Dokumen Pribadi

Ironi Kecantikan yang Terkubur Sampah

Wisata Senja di Capak, begitu orang-orang menyebutnya. Tempat ini menjadi tempat yang sangat instagramable cocok untuk menghabiskan sore dengan menikmati keindahan senja yang berarak tenggelam. Mulanya, Capak adalah sebuah daerah yang biasa, hanya menjadi laluan bagi orang-orang yang berlalu lalang. seiring berjalannya waktu, elok rupanya berhasil menarik perhatian banyak orang, terutama setelah beberapa pengunjung membagikan momen-momen indah mereka melalui media sosial. Namun, semakin populer tempat ini, semakin nyata pula masalah sampah di sini.

Di tempat ini senja terbenam, meninggalkan kenangan, foto-foto estetik, dan percakapan yang intim. Sementara manusia meninggalkan limbah, mulai dari plastik hingga sampah organik, terlihat berserakan di sepanjang jalan setapak dan tepi tambak. Pesona wisata sirna seketika.

Kurangnya kesadaran pengunjung akan kebersihan lingkungan, membuat wisata senja di Capak harus berubah menjadi tempat pembuangan sampah. Bermacam-macam sampah ada di sini, terutama sampah plastik, kemasan makanan yang dijual dan dibawa pengunjung. 

“Nih, Mbak ya, kalau Sampeyan tahu, sampah di sana itu bermacam-macam, dari yang kecil hingga sampah yang jenisnya middle cast, Mbak dapat mengenali apa saja jenis lapak yang berjualan di sana sesuai dengan sampah yang ditemukan. Misalnya ni, kalau ada sampah kumpulan cup plastik artinya itu, tempat penjual kopi, kalo ditemukan sosis gitu, berarti itu biasanya lapak penjual pentol atau ngak sosis, terus kotak sampahnya itu ada, gede banget terbuat dar bambu, tapi tidak difungsikan sebagai kotak sampah” ujar Pajar Amirul Mukti saat diwawancarai.

“Bayangkan saja, jika setiap harinya ada lima puluh orang berkunjung, dan masing-masing membawa dua sampai tiga kantong plastik, kemudian membuangnya di tempat ini. Maka setiap bulan akan ada empat ribu lima ratusan sampah berserakan di sini,” jelas Muhimmat salah seorang mahasiswa Universitas Al-Amien Prenduan. “Saat hari libur, tempat wisata ini bahkan dikunjungi ratusan pengunjung.”

Para pengunjung seperti tak peduli pada tempat yang mereka jadikan spot mengabadikan kebersamaan dalam balutan keindahan Capak. Mereka sudah tidak peduli bahwa pada saatnya nanti, wisata Capak akan menjadi wisata sampah. Idealnya tempat wisata akan menjadi semakin beruntung ketika didatangi banyak pengunjung, akan tetapi sepertinya hal itu tidak berlaku bagi wisata senja Capak. Sebab, semakin banyak pengujung, akan semakin banyak sampah baru yang ditinggal semau mereka.

“Pemandangan itu sungguh menyedihkan. Setiap sudut tempat ini dipenuhi dengan sampah. Baik itu gelas plastik, kemasan makanan, atau bahkan serpihan makanan yang dibuang sembarangan oleh para pengunjung,” ungkap Rofiki salah seorang aparatur desa, salah satu saksi yang prihatin dengan kondisi tersebut.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kesadaran menjaga kebersihan lingkungan masih sangat minim di kalangan pengunjung. Tanpa tindakan yang tepat, dikhawatirkan Wisata Capak akan segera berubah menjadi destinasi yang dipenuhi oleh sampah, merusak pesona alamnya yang unik dan mengagumkan.

Komitmen Merawat Lingkungan

Keindahan capak yang ternodai ini membuat sembilan mahasiswa Universitas Al-Amien Prenduan berinisiatif untuk melakukan sosialisasi peduli lingkungan. Bagi mereka sebagai mahasantri, melihat lingkungan yang sangat kotor tentunya menjadi beban moral, dalam bahasa agama yang mereka pelajari, indikator kemusliman seseorang dilihat dari kepedulian mereka terhadap kebersihan.

Setelah tiga hari berada di lokasi KKN, mereka berkomitmen untuk merawat lingkungan di desa Capak. Niat mereka disampaikan kepada kepala desa, sebagai wujud kepedulian mereka terhadap potensi yang ada di Desa Pandan. Empat hari mendiskusikan program sosialisasi dan edukasi peduli lingkungan bersih di wisata capak.

Setelah menemukan kata sepakat, mahasiswa praktikan KKN menyampaikan rencana mereka melalui media sosial. Mereka juga berkolaborasi dengan @holicmadura dan @enjoypemakasan, komunitas yang meng-ekspose semua hal tentang Madura, dengan cara menyapa masayarakat Madura khususnya Pamekasan melalui video untuk turut andil dan berpartisipasi dalam kegiatan peduli lingkungan dengan membersihakan sampah-sampah yang ada.

Bukan tanpa aral, para mahasiswa praktikan sempat mendapatkan cibiran dari masyarakat. Dulu pernah ada juga kegiatan bersih-bersih sampah. Hasilnya, wisata Capak kembali dipenuhi sampah kurang dari sepekan. “Sampah di sini seperti sudah seperti alamnya. Ada manusia ya ada sampah. Susah menghilangkan sampah di sini.” Begitu kata salah satu penjual makanan di pinggiran jalan wisata Capak.

 Bantuan aparatur desa, beberapa warga, dan komunitas peduli Madura menjadi semangat sendiri bagi para mahasiswa. Layar sudah terkembang, mereka tetap optimis dapat membersihkan sampah dan dapat mengedukasi masyarakat sekitar dan pengunjung untuk lebih peduli wisata senja Capak yang ada di Pamekasan. Keterlibatan multipihak merupakan energi yang tak pernah surut di dada para mahasiswa dalam berkomitmen membersihkan dan merawat lingkungan di wisata Capak.

Screen Shoot Video ajakan untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan sosialisasi lingkungan

Sumber : Dokumen Pribadi

 Kebersamaan dalam Aksi Bersih

Rabu (14/02/24) aksi dilakukan. Sembilan mahasiswa KKN, bekerja sama dengan pihak kecamatan, dibantu  masyarakat setempat, dan komunitas peduli Madura, Karang Taruna Desa Pandan, Ibu PKK dan partisipan lainnya melakukan bersih-bersih wisata campak. Delapan puluh kantong plastik sampah terkumpul, kemudian diangkut menggunakan mobil untuk dipindahkan ke tempat pembuangan sampah oleh pihak Kecamatan. Wisata Capak akhirnya kembali cantik tanpa gangguan sampah.Wisata capak, menjadi cantik dari segala sisinya.

Selain itu untuk mempertahankan kebersihan wisata senja di Capak, para mahasiswa KKN,  selama satu bulan kurang lebih berada di Desa Pandan, mencoba mengedukasi masyarakat dengan cara mensosialisasikan kepada seluruh masyarakat setempat tentang pentingnya hidup di lingkungan bersih dan sehat. Dengan cara membuat plang-plang wise word berisi kalimat sarkasme bagi pengujung yang datang dan membuang sampah sembarangan, dengan harapan dapat memberikan kesadaran bagi para pengujung untuk tidak membuang sampah sembarangan. Selain itu para mahasiswa juga melakukan pemahaman sejak dini kepada anak-anak yang mereka temui di sekolah setempat, tentang betapa pentingnya membuang sampah pada tempatnya dan menjaga lingkungan tetap sehat yang bersih dari sampah.

Plang sarkasme sebagai pengingat untuk tidak membuang sampah sembarangan

Sumber: Dokumen Pribadi

“Kita berharap suatu saat para akademisi bisa memberikan kontribusi lebih banyak dengan riset-riset psikologis mereka tentang kepedulian lingkungan, riset pengolahan sampah plastik, serta riset peremejaan lingkungan bisa dilakukan di sini untuk bisa melakukan perubahan yang komprehensif. Let’s nurture the nature, so that we can have a better future, kita hanya perlu memelihara alam agar kita memiliki masa depan yang lebih baik,” ucap Mukti. 

Dengan berbagai upaya yang telah dilakukan, para mahasiswa UNIA berharap bahwa kebersihan Wisata Capak dapat terus terjaga. Mereka berkomitmen untuk terus melakukan aksi-aksi nyata dan memberikan edukasi kepada masyarakat agar kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan semakin meningkat. Mereka berkomitmen akan menjadi desa ini sebagai desa binaan agar potensinya sebagai wisata indah tetap lestari.

Aksi bersih-bersih yang dilakukan secara kolaboratif ini merupakan awal dari upaya bersama untuk menjaga kebersihan dan keindahan Wisata Capak. Namun, upaya ini tidak boleh berhenti di sini. Artinya diperlukan komitmen yang kuat dari semua pihak untuk menjaga kebersihan lingkungan Capak agar tetap lestari dan dapat dinikmati oleh generasi yang akan datang.

“Melalui upaya bersama antara mahasiswa, masyarakat, dan berbagai pihak terkait, diharapkan Wisata Capak dapat tetap menjadi destinasi yang indah dan bersih saat ini dan bagi generasi mendatang. Dengan semangat kebersamaan dan komitmen yang kuat, masa depan yang lebih baik untuk lingkungan tidak lagi menjadi sekadar impian, melainkan sebuah kenyataan yang dapat diwujudkan.”  (Lala Olivia/AJMI)

Suasana aksi bersih-bersih wisata capak

Sumber : Dokumen   Pribadi

Screenshot Video “Before dan After” setelah dibersihkan

Sumber :Dokumen Pribadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.