Sab. Jun 22nd, 2024

Guru Sebagai Sahabat Pendidikan

4 min read

Keterkaitan erat antara guru sebagai pendidik dan anak sebagai peserta didik menjadi bagian terpenting akan tolak ukur suksesnya suatu pendidikan. Sebab, sejatinya guru sebagai pendidik, senantiasa dituntut untuk hadir di tengah-tengah proses pendidikan. Kehadiran guru ini tak hanya sebatas sebagai seorang pendidik yang mengajar di kelas-kelas dalam pelajaran formal semata, akan tetapi kehadiran guru sudah seharusnya menjadi sahabat sejati bagi anak didik yang mampu memahami secara mendalam hakikat keberadaan anak didik itu sendiri.

Guru semestinya bertindak sebagai sahabat yang punya kedudukan setara dengan siswa. Guru seperti inilah yang mampu menciptakan atmosfer belajar yang hangat, mengasyikkan, membangkitkan semangat, dan menancapkan kepercayaan diri bagi siswa. Pada gilirannya, guru yang ”bersahabat” menjadi dambaan setiap siswa yang ujung-ujungnya berdampak positif bagi kualitas pendidikan kita.

Keberadaan guru sebagai salah satu unsur utama dalam pendidikan tak dapat diragukan lagi, bahwa guru senantiasa menempati posisi pada garda terdepan dalam kemajuan suatu bangsa. .

Baru-baru ini di era distruptif kita sering menemukan kenyataaan, permasalahan pendidikan yang ada di Indonesia belum sepenuhnya terurai dengan baik. seiring berkembangnya waktu. Seperti halnya bahwa pendidikan belum sepenuhnya  bisa merubah pola pikir buruk seorang anak yang kemudian nantinya bertransformasi menjadi sikap baik, yang dalam hal ini pendidikan seharusnya diyakini sebagai awal terbentuknya akhlakul karimah di setiap anak didik.

Teknologi di era globalisasi menunjukkan pengaruh dahsyatnya sebagai faktor penyebab kenakalan remaja. Teknologi ibarat pisau yang bemata dua yang bisa melukai pemakainya sendiri, teknologi sebenarnya merupakan media untuk mempermudah hidup manusia, tetapi teknologi juga mempunyai potensi merusak apabila tidak dipergunakan secara bijaksana. Apabila kita kaitkan dengan kenakalan – kenakalan remaja akhir akhir ini, sifat dari kenakalan tesebut sudah berubah dari zaman kenakalan berbasis tradisional seperti tawuran dan bolos sekolah sekarang sudah berevolusi menjadi kenakalan remaja berbasis teknologi seperti video porno di handphone para siswa sampai situs – situs porno yang berserakan di dunia maya.

Namun kita tidak dapat mempersalahkan kemajuan teknologi, karena teknologi diciptakan untuk mempermudah kegiatan manusia, tergantung bagaimana manusia tersebut mempergunakannya, apakah memanfaatkannya dengan baik, atau malah menyalahgunakannya.

Di era globalisasi dan teknologi, profesionlisme seorang guru sekarang ini semakin penuh tantangan sesuai dengan tuntutan zaman now. Secara normatif peran guru antara lain sebagai pengajar dan pendidik. Sebagai pengajar, guru harus mampu mentransfer ilmu pengetahuan ke peserta didik. Sedangkan sebagai pendidik, guru mau dan mampu membimbing siswanya untuk mengenalkan dan mengembangkan karakter-karakter yang baik untuk membangun perkembangan mental yang baik, untuk tumbuh kembang jiwanya. (Radar Semarang, 11/12)

Kalau kita cermati, di zaman sekarang ini, semua kegiatan dalam kehidupan ini menjadi serba mudah. Ini karena teknologi yang berkembang mampu memanjakan manusia di dunia ini menjadi serba mudah dan instan. Anak menjadi akrab dengan teknologi sejak usia dini. Orang tua menjadi bangga bila anaknya berprestasi. Semua prestasi itu diraih dengan penghantaran teknologi, tanpa disadari telah melupakan faktor sosial dan karakter kepribadian.

Nah, di sinilah peranan guru dapat kita coba untuk menjadi pendidik, yaitu dengan menjadi sahabat siswa yang bermasalah. Dengan berperan sebagai sahabat diharapkan anak didik menjadi nyaman dan terlindungi dengan guru, sehingga siswa mau jujur mengungkapkan permasalahan dirinya.

Menjadi sahabat anak didik tentu tidak hanya dengan selalu mendengar keluh kesah mereka, akan tetapi juga mendorong pribadi mereka agar menjadi pribadi yang mandiri dan tangguh dalam menghadapi setiap masalah yang mereka hadapi. Sebagai seorang yang berperan sebagai pengajar sekaligus sahabat untuk anak didiknya dalam ranah pendidikan, guru menjadi suatu sosok yang paling dinantikan akan sikap kebijaksanaannya dalam menghadapi setiap masalah yang rentan dihadapi dalam pendidikan. Menjadi sahabat anak didik adalah salah saru ikhtiar seorang guru dalam pencapaian keberhasilan pendidikan.

Kepercayaan yang diberikan oleh seorang guru kepada anak didik membuat selalu merasa nyaman dengan gurunya, sehingga anak didik tidak malu-malu lagi dalam menceritakan masalah yang mereka hadapi dalam proses pembelajaran di sekolah maupun masalah pribadi mereka. Menjadi sahabat siswa juga merupakan langkah guru untuk memhami setiap karakter peserta didiknya agar lebih mudah memahami setiap kekurangan dan kelebihan.

Dengan memposisikan diri sebagai sahabat siswa, bukan tidak mungkin akan menciptakan proses belajar mengajar yang efektif, sehingga materi yang di sampaikan guru dapat di pahami siswa dengan baik tanpa adanya tekanan dari guru. Sebagai guru seharusnya kita dapat menyanyangi siswa dan memahami bahwa mereka mempunyai kelemahan dan kelebihan. Sebagai guru kita juga harus bisa menempatkan diri kapan bisa menjadi sahabat untuk siswanya dan kapan menjadi guru yang harus dihormati dan didengar penjelasannya. Disaat kita memposisikan diri sebagai pengajar kita harus bertindak sebagaimana pengajar tanpa harus memberikan tekanan untuk siswa, buat suasana belajar yang menyenangkan agar siswa tidak merasa bosan. Sedangkan ketika kita memposisikan diri kita sebagai sahabat mereka, kita harus ikhlas mendengar setiap keluh kesah mereka dan memberikan mereka dorongan serta motivasi dalam menghadapi setiap masalah yang mereka hadapi.

Dengan demikian, guru yang menjadikan anak didiknya sebagai sahabatnya maka akan memposisikan diri setara dengan anak didiknya. Guru seperti inilah yang akan mampu menciptakan atmosfer belajar yang hangat, menyenangkan, membangkitkan semangat, dan membangun kepercayaan diri yang besar dalam diri anak didik. Jika sudah demikian, maka guru yang bisa menjadi sahabat bagi anak didiknya akan dicintai oleh mereka, sehingga hal ini akan berbanding lurus dengan keberhasilan dalam mewujudkan tercapainya tujuan belajar mengajar.

Uzlifatul Jannah

Mahasisiwi Institut Dirasat Islamiyah Al-Amien Prendauan, Fakultas Tarbiyah, Program Studi Pendidikan Bahasa Arab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.