Sab. Jun 22nd, 2024

Impersonal Teacher dalam Pendidikan Pesantren

4 min read

Kemajuan ilmu pengetahuan selalu menjadi asas adanya bukti perkembangan yang sangat drastis terhadap budaya global yang senantiasa mengutamakan ilmu dan perkembangan teknologi. Dalam pendidikan, teknologi kini memiliki peranan tersendiri terutama proses belajar mengajar.

Jika menelisik lebih jauh terkait perkembangan dunia pendidikan saat ini yang identik dengan peranan teknologi, seperti halnya aplikasi ruang guru. Data hingga saat ini menunjukan respon pengguna aplikasi ruang guru ini mencapai 1000 siswa. Siswa mulai dari jenjang SD, SMP hingga SMA.

Dalam hal ini tentu sangatlah jelas akan dapat merubah peran, visi dan misi guru. Melihat fungsi seorang guru sebagai penyampai ilmu, pembentuk karakter akan hilang seiring berkembangnya arus globalisasi. Hingga seakan-akan karena adanya perkembangan arus teknologi ini dapat menodai dimensi “sakralitas’ dan kedudukan seorang guru, tentu akan berakibat pada hilangnya nilai-nilai doa dan nasehat seorang guru sebagai langkah untuk membentuk moral seorang murid yang utuh. 

Melihat perkembangan globalisasi ini serta dampaknya pada pendidikan hanya lebih mengutamakan ilmu,  rasio, teknologi, panca indera serta materi yang berbasis anthropo-centris, yang hanya lebih mengutamakan kemampuan manusia semata, tanpa perlu untuk mengembangkan aspek-aspek keberadaan sikap spiritual yang harus dimiliki seorang murid. Kecemarutan masalah yang sedemikian rupa tentu akan berakibat pada pembentukan generasi-generasi yang lebih mengedepankan materialistik, hedronistik, sekularis dan pragmatis. Para murid akan senantiasa dijejali nilai-nilai barat seperti kebebasan yang akan berdampak pada sebagian besar kepribadian generasi penerus bangsa di masa yang akan datang.

Dalam hal ini dunia pendidikan pesantren sebagai corak pendidikan yang khas, dimana dalam dunia pendidikan pesantren terdapat peran seorang guru atau lebih akrab dikenal dengan sebutan Kiai yang hingga saat ini masih bisa meneguhkan perannya dengan baik sebagai ranah pendidikan yang senantiasa menanamkan aspek moral dalam misi sucinya.

Citra figur seorang Kiai dalam pendidikan pesantren tidak pernah terganti peranya, dalam hal ini posisi seorang Kiai mempunyai nilai kepribadian yang karismatik (personal power) sebagai pendidik yang langsung memerankan perananya dalam proses pendidikan.

Dalam ranah pendidikan pesantren, adanya sosok figur seorang Kiai dipercaya sebagai perpanjangan tangan tuhan dalam menyampaikan ajaran kebenaran. Kiai dipercaya sebagai jiwa pendidik yang suci dalam proses manifestasi keilmuan yang berlangsung dalam ranah pesantren.

Dalam sebuah kajian Al-Qur’an dan Hadist hingga pada kajian spiritual, menjelaskan bahwa posisi seorang guru dalam pendidikan pesantren tak sebatas dari wujud orang (guru) itu sendiri (Personal Teacher), tetapi juga bukan orang (Impersonal Teacher). Konsep ini tentu lahir dari pengalaman spiritual yang tinggi dalam hal ini kebanyakan munculnya paham spiritual yang beranggapan bahwa “Alangkah Miskinya seorang murid Jika Gurunya adalah orang-orang yang masih hidup.” Maka dari pernyataan ini sudah sangat jelas digambarkan bahwa proses transformasi ilmu tak hanya sebatas dengan adanya dedukasi akal semata, akan tetapi lebih dari itu perlu adanya reason, reflection, dan consideration atas substansi sebuah ilmu dengan benar

Seperti halnya pengalaman spiritual sejumah ulama besar dalam proses mengkaji suatu ilmu kepada sosok figur yang sudah lama wafatnya. Antara lain: Imam Al-Gazali pernah ditanya seorang muridnya yang keberatan dengan sejumlah hadis yang tidak diketemukan di dalam kitab-kitab Hadis. Imam Al-Gazalimenjelaskan: ”Saya tidak pernah menulis sebuah hadis di dalam Kitab Ihya’ ’Ulum al-Din, tanpa mengkonfirmasikan sebelumnya kepada Rasulullah Saw, benarkah hadis ini dari engkau ya Rasulullah? Sebelum Nabi menganguk sebagai tanda keshahihan hadis itu. Kitab Ihya’ditulis di atas puncak menara masjid Damascus. Allahu a’lam

Dari gambaran peristiwa spiritual tersebut, mari perlunya diantara kita membangun pemahaman yang utuh akan sosok seorang guru. Guru bukan hanya terdiri dari personal teacher semata, akan tetapi impersonal teacher, seperti halnya roh-roh para Kiai, ulama, wali, dan khususnya dari Rasulullah Saw. Dalam hal ini secara jelas melukiskan bahwa proses penempaan ilmu dalam pesantren tidak hanya pada wujud nyata seorang guru saja, akan tetapi kita bisa mendasari dan belajar dari roh-roh suci seorang Kiai ataupun ulama. Sebab pada dasarnya seseorang bisa berkomunikasi secara interaktif dengan roh-roh yang sudah wafat terutama roh orang pilihan Allah seperti Nabi dan Syuhada.

Pendidikan pesantren tidak hanya mengedepankan pendidikan dalam ranah kognitif semata, akan tetapi juga dalam ranah spiritual yang tak kalah penting keberadaanya. Keberadaan peran seorang Kiai tidaklah selalu mengedepankan praktek terciptanya akal kognitif semata, akan tetapi dalam pengabdian sebagai seorang pendidik Kiai senantiasa memerankan kesinambungan dalam proses pendidikan yang berbasis pada terciptanya akal potensial, akal habitual, dan akal aktual.

Kiai dalam ranah pendidikan pesantren akan terus terabadikan perananya, sebagai wujud gambaran yang nyata akan sosok Impersonal Teacher yang memiliki jiwa yang suci, ia memerankan secara langsung sebagai tangan tuhan di muka bumi dalam menyampaikan risalah keilmuan yang hak (benar) dan penyeru pada yang bathil (salah). Ajaran keilmuan yang disampaikan oleh Kiai merupakan bentuk refleksi yang nyata akan proses ke-pendidikan yang sejatinya harus berlangsung saat ini, sehingga nantinya akan melahirkan generasi-generasi pembangun peradaban berdasarkan pondasi intelektualitas pengetahuan dan keimanan.

Ditulis Oleh;

Achmad As’ad Abd. Aziz

Anggota Aliansi Jurnalis Muda IDIA, Mahasiswa Fakultas Tarbiyah, Program Studi Pendidikan Agama Islam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.