Sab. Jun 22nd, 2024

PERAN WANITA SEBAGAI IBU INTELEKTUAL

2 min read

Dalam banyak diskusi, wanita disebut-sebut sebagai agen perubahan. Ungkapan itu sama sekali tidak berlebihan. Sebab, wanita adalah seorang guru bagi anak-anak yang kelak akan menjadi penggerak roda kehidupan bangsa.

Karenanya, peran seorang wanita dalam mendidik anak-anaknya sangat dibutuhkan. Selain karena ketelatenan dan kelemahlembutan seorang ibu dalam mengurus anak-anaknya wanita juga dinilai mampu melakukan banyak hal dalam waktu yang bersamaan (multitasking). Dalam artian wanita selain menjadi pendamping suaminya, juga dapat melakukan berbagai macam hal lain, termasuk pendidikan.

Tetapi ruang batas gerak wanita bukan hanya sebatas di dalam rumah saja. Dengan kecerdasan yang dimiliki oleh setiap wanita, dia bahkan mampu menjadi agen perubahan dalam sebuah bangsa.

Tidak usah jauh-jauh mencari contoh. Kita bisa ambil contoh RA. Kartini. Beliau adalah wanita Indonesia yang merupakan penggerak untuk kesejahteraan kaumnya. Beliau juga bergerak memperjuangkan hak-hak kaum wanita dalam pendidikan yang di zaman itu wanita selalu direndahkan dan dikecilkan derajatnya.

Usaha-usaha itu merupakan suatu pelajaran bahwa wanita memiliki peran yang sangat sentral dalam membangun dan memajukan bangsa. Aspek yang paling penting ialah wanita sebagai pendidik utama bangsa Indonesia.

Baginya, seorang wanita bukan makhluk yang pantas direndahkan. Dengan pemikiran yang brilian, wanita dapat mengalahkan pria dalam berbagai bidang. Walaupun faktanya, sampai sekarang, posisi wanita selalu dipersoalkan jika terjun dalam ranah publik.

Usaha-usaha yang dilakukan RA. Kartini, juga merupakan penyadaran wanita memiliki kemampuan yang sama dalam mengusahakan perubahan. Tetapi yang perlu diperhatikan, sebagaimana pria, wanita tidak bisa menjadi agen perubahan tanpa mengalami proses pendidikan yang baik.

Jadi sah-sah saja bila seorang wanita mempunyai cita-cita tinggi dan berbagai pemikiran cemerlang untuk mengubah dunia ini. Karena hal ini telah menjadi hak setiap manusia di bumi semenjak dilahirkan.

Namun walaupun demikian. Di tengah terbukanya kesempatan bagi wanita untuk melakukan perubahan dengan ikut aktif dalam kegiatan-kegiatan publik, wanita perlu menyadari tugas utamanya sebagai pendidik anak yang sebaik-baiknya agar dapat melanjutkan visi utama Kartini yaitu menjadi ibu intelektual.

Maka untuk melanjutkan peran Kartini dalam perubahan dan meregenerasi intelektual, setiap wanita perlu menyadari terlebih dahulu sebagai ibu dan pembelajar sepanjang hayat. Sebagaimana dalam pernyataan Hatim Al-Asham, “wanita solihah adalah tiang agama, sementara di dalam rumah meramaikannya”.

Anisah Zulfa, Mahasiswi semester III Fakultas Tarbiyah PAI dan anggota AJMI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.