Sab. Jun 22nd, 2024

LITERASI DAN IMPIAN WORLD CLASS UNIVERSITY

5 min read

A picture taken on September 2, 2016 shows the people working and studying in the reading "oval" room at the BNF, French National Library in central Paris. / AFP / MIGUEL MEDINA (Photo credit should read MIGUEL MEDINA/AFP/Getty Images)

Lahirnya pemaknaan baru dari kata literasi, telah mewarnai perkembangan pendidikan pada abad ke-21 ini. Dipandang dalam sudut tradisional, literasi mempuyai artian sebagai suatu kemampuan membaca dan menulis. Dalam pandangan ini, seorang individu dikatakan literat dalam hal ini adalah orang yang punya kemampuan membaca dan menulis atau bebas huruf.

Konsepsi literasi selalu menjadi kajian pembahasan yang tak pernah surut. Literasi selalu mengalami perkembangan pada masa nya. Saat ini pemerintah, tengah semarak membumikan budaya literasi dengan tajuk gerakan literai sekolah (GLS) dalam dunia pendidikan, khususnya kemendikbud. Hal ini dilatarbelakangi oleh berbagai riset yang menunjukkan bahwa tingkat literasi di kalangan masyarakat khususnya pelajar masih rendah. Hasil penelitian Programme for International Student Assessment (PISA) menyebut, budaya literasi masyarakat Indonesia pada 2012 terburuk kedua dari 65 negara yang diteliti di dunia. Indonesia menempati urutan ke 64 dari 65 negara tersebut. Sementara Vietnam justru menempati urutan ke-20 besar.

Dunia akademisi sangat bertanggung jawab dalam perkembangan budaya literasi yang ada, seperti hal nya dunia perguruan pendidikan perguruan tinggi, atau lebih akrab diatasnamakan kampus. kampus sangat bertanggungjawab atas apa yang terjadi di dunia literasi kampus, karena kampus bertugas menjadikan mahasiswanya menjadi manusia yang progresif, efektif, kreatif dan menyikapi/mencari solusi pada masalah di dunia khususnya akademik. 

Namun, sangat disayangkan, kampus yang seharusnya menjadi tonggak perkembangan ilmu pengetahuan, (transfer knowledge), seakan-akan statement ini justru berbalik arah. Mari melihat kondisi percakapan pendidikan di perguruan tinggi kita.

Secara substansial, titik keberhasilan pendidik, terutama dalam taraf perguruan tinggi ditentukan bagaimana kualitas dosen dalam proses Transfer Knowledge keseharianya. Hal ini tentu bukan tanpa alasan, karena dosen sebagai pendidik yang bersentuhan langsung dengan mahasiswa tentu punya peran penting sebagai proses penyampaian kurikulum sistem perkuliahan. Pendidik perguruan tinggi, atau dosen, rentan sekali membudayakan literasi sebagai langkah dalam mengembangkan kualitas pendidikan yang lebih baik, dengan cita-cita literasi yang dibumikan.

Melihat wacana yang seiring berkembang hingga saat ini, keputusan Kemenristekdikti (Menteri Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi) Mohammad Nasir menuai banyak masukan dan kontrovensi, khususnya yang berkembang dikalangan akademisi. Pasalnya, Menteri Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi akan mengimpor dosen asing sebanyak 200 orang.

Keputusan Kemenristekdikti ini, bukan tanpa alasan. Ia menganggap bahwa sudah saat nya Indonesia berbenah, khususnya dalam ranah pendidikan di perguruan tinggi. Tak hanya itu yang menjadi sandaran atas keyakinan Mohammad Nasir, terbitnya peraturan presiden (Perpres) nomor 20 tahun 2018, tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing pada 26 maret lalu, dinilai Nasir sebagai asas mempermudah dosen-dosen asing mengajar ke  Indonesia.   

Menurut Mohammad Nasir fokus impor dosen asing ini, kelak akan dikonsetrasikan pada pengembangan sains dan teknologi. Melihat perkembangan dan tantangan revolusi industri 4.0 dirasa sangat perlu untuk dunia pendidikan mempertajam pengembangan sains dan teknologi.

Tentu dari keputusan untuk impor dosen asing inilah, harapan Mohammad Nasir agar para dosen lokal, mampu menimba pengetahuan dan pengalaman lebih dari dosen asing, di samping itu, ia juga menganggap kehadiran dosen asing di perguruan tinggi akan meningkatkan kualitas penelitian-penelitian di perguruan tinggi Indonesia. Dalam hal ini tentu dapat mendongkrak reputasi kampus-kampus di Indonesia mempunyai nama di taraf kampus dunia, world class university.

Dalam keterangan sebuah laman resmi, Mohammad Nasir mengatakan, langkah ini untuk meningkatkan ranking perguruan tinggi di jajaran 100 besar dunia. Pemerintah bahkan mensinergikan bahwa pada tahun 2020, ada satu perguruan tinggi yang dipimpin rector luar negeri, dan pada tahun 2024 jumlah ditargetkan menjadi lima.  Sejauh ini baru tiga universitas di Indonesia yang masuk dalam kategori 500 besar dunia, diantaranya, UI, ITB dan UGM.

Lahirnya wacana ini, menuai diksi dan kontroversi di kalangan civitas akademika perguruan tinggi Indonesia. Tentu nya banyak tahapan yang harus dipertimbangkan secara matang, dan harus melihat sebab dan akibat yang akan terjadi nantinya.

Keputusan untuk impor dosen, juga butuh melihat adanya penyesuaian gaji yang lebih besar dari pada gaji yang biasa diberikan kepada dosen lokal. Dalam hal ini dikhawatirkan akan menimbulkan kesenjangan. Masalah ini tentu tidak boleh terjadi begitu saja, karena dosen adalah motor penggerak utama dalam perguruan tinggi. Tentu dari kesenjangan tersebut, akan terjadi disharmoni dalam pranata pendidikan perguruan tinggi di Indonesia.

Kendala berikutnya yaitu, jika Akademisi asing masuk ke Indonesia tentu akan mengalami kendala budaya, terutama saat bertugas di sebuah peguruan tinggi Indonesia. Memanage sistem perguruan tinggi tentunya bukan sebuah hal yang mudah, didalamnya perlu kerja sama yang otentik, solid, dan saling bersinergi membawa perubahan kampus yang lebih unggul. Walaupun akademisi luar negeri memiliki tingkat pengetahuan yang lebih tinggi, tapi semua itu akan tidak ada artinya jika tanpa diimbangi budaya kerja sama yang baik dalam mengatur sistem perguruan tinggi.

Dari pandangan permasalahan di atas, impian akan world class university atau kampus kelas dunia bisa terwujud jika kampus atau perguruan tinggi mampu bersaing dari banyak aspek dengan perguruan tinggi di dunia. Salah satu nya yaitu perkembangan literasi.

Transfer Knowledge dapat diwujudkan dengan transfer budaya literasi dari dosen kepada mahasiswa. Dilakukan dengan cara mengarahkan bahkan mewajibkan mahasiswa untuk membaca buku yang dapat mengundang menunjang ilmu pengetahuan nya, tak hanya itu dengan mentransfer budaya literasi dalam diri mahasiswa, tentu diharapkan perkembangan diri yang positif .

Dosen yang berkualitas tentunya mempunyai berbagai refrensi literatur yang dapat menumbuh kembangkan sikap pengetahuan dan tingkat keilmuanya agar lebih tinggi. Tumbuhnya sikap pengetahuan seorang dosen tentu tak lepas dari berapa literatur yang ia baca dalam keseharianya.

Di era revolusi industri 4.0 yang saat ini tengah kita hadapi, dunia pendidikan tak hanya menuntut  manusia berkembang untuk melek teknologi semata, akan tetapi namun juga harus update terhadap perkembangan informasi. Disadari atau pun tidak perkembangan literasi sudah sepatutnya menjadi sasaran bagi dunia pendidikan, terutama perguruan tinggi kita saat ini, karena melihat tantangan zaman dan era yang semakin kompleks.

Peningkatan kualitas dosen bisa diraih, dengan mengembangkan pelatihan-pelatihan pada dosen, khususnya dalam bidang pengembangan literasi. Kemampuan literasi pada dosen bisa diasah dengan meningkatkan penelitian-penelitian terbaru, sebagai sebuah kontribusi dosen agar menjadi solusi bagi perkembangan pendidikan, khususnya dalam perguruan tinggi.

Dengan adanya tingkatan penelitian yang secara konsisten dilakukan seorang dosen, diharapkan mampu menghasilkan penelitian yang baik dan terpublikasikan lewat tulisan-tulisan jurnal ilmiah yang memiliki tingkat reputasi tinggi.

Dengan begitu, lantas kemudian akan tumbuh budaya sadar akan pentingnya penelitian riset sebagai kebutuhan mendasar yang diperlukan keberadaanya guna meningkatkan produktivitas dosen yang berdaya saing nasional maupun internasional. Kualitas penelitian atau riset yang perlu dilakukan dosen perlu adanya dukungan peningkatan biaya anggaran agar, akademisi perguruan tinggi ini mampu menorehkan multiplier effect yang besar untuk terciptanya kampus kelas dunia, world class university.

Orientasi pendidikan Indonesia saat ini, terutama peguruan tinggi, harus ada dalam jalan dan langkah yang benar. Wacana impor dosen, tentu butuh pematangan sikap dan kebijakan yang harus mendasarinya. Seperti apakah kualitas dosen yang ingin disiapkan? Lantas, kemana arah yang akan dituju? Dan pada akhirnya semua butuh keputusan dan pertimbangan yang matang.

Terlebih, perkembangan pendidikan saat ini, terutama dalam perguruan tinggi, mewajibkan dosen untuk menyandang tugas BKD (Beban Kinerja Dosen) dilaksanakan dengan baik. Tak hanya itu, disisi lain seperti halnya guru besar harus mampu menulis jurnal Internasional terindex scopus.

Terakhir, sebagai sebuah spirit 74 tahun Indonesia, dengan tajuk kebangsaan “Sumber Daya Manusia Unggul, Indonesia Maju.” Sudah bakal pasti merupakan harapan baru, dengan kejelasan langkah yang konkrit kemana arah pendidikan kita akan ditempuh. Dan sudah sepantasnya kita meningkatkan kualitas manusia Indonesia, terutama para pendidik perguruan tinggi. Kampus harus mampu menjadi suara-suara harapan yang siap dicanangkan dengan nyata. Dengan membangun kembali budaya literasi, sehingga menjadi nafas segenap komponen perguruan tinggi, Karena tak ada bangsa maju tanpa tingginya minat terhadap literasi. Semua bisa memulai dari hal terkecil dengan membaca hal-hal yang baik dan berkualitas. Karena bangsa ini pun pernah punya catatan literasi yang mengguncang dunia bahkan bangsa ini merdeka lewat suara-suara dan tulisan-tulisan.

*Achmad As’ad Abd. Aziz, Anggota Aliansi Jurnalis Muda IDIA (AJMI). Mahasiswa Fakultas Tarbiyah, Program Studi Pendidikan Agama Islam

Tulisan ini pertamakali diterbitkan pada Radar Madura Jawa Pos edisi Rabu, 04 September 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.