Sel. Mei 28th, 2024

Moderasi Islam dalam Bingkai Pendidikan Pesantren

4 min read

Islam dan kemanusiaan adalah dua hal yang saling mengisi dan melengkapi satu sama lain. Anggapan bahwa ajaran Islam sangat kontradiktif dengan nilai-nilai kemanusiaan adalah sebuah persepsi yang tidak bisa diterima begitu saja. Ajaran-ajaran Islam sarat dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan. Islam sangat menghargai kemajemukan, menjunjung tinggi hak asasi manusia dan menjamin kesetaraan dan keadilan bagi seluruh umat manusia.

Pada masa awal periode Mekkah misalnya, universalitas Islam terlihat dari Penggunaan khitab “ya ayyuhan Naas” (Wahai Manusia) dalam proses dakwah. Penggunaan khitab tersebut menegaskan betapa apresiatifnya Islam dalam berdialog dan berdakwah dengan masyarakat Arab yang pada waktu itu terdiri dari berbagi suku dan latar belakang yang sangat beragam.

Namun universalitas dan apresiasi Islam yang begitu tinggi harus sedikit ternodai dengan aksi-aksi radikal yang mengatasnamakan Islam. Islam dan umat muslim saat ini harus berjuang melawan stigma-stigma negative yang sudah terlanjur dilekatkan dengan Islam seperti radikalisme, terorisme dan fundamentalisme.

Islam Moderat atau Moderasi Islam hadir sebagai salah satu dari banyaknya terminologi yang muncul dalam dunia pemikiran Islam sebagai antitesis dari munculnya pemikiran dan pemahaman-pemahaman yang radikal dalam mempelajari dan memahami ajaran dan teks-teks keagamaan.

Islam Moderat dipersiapkan sebagai bentuk perlawanan terhadap Islam Garis Keras atau radikal, juga sebagai solusi dari hal-hal yang dipandang keras, ekstrim dan radikal oleh sebagian orang. Islam moderat datang untuk menampakkan wajah Islam yang damai, inklusif dan meneguhkan posisi Islam sebagai Rahmatan lil ‘alamin¸tidak hanya rahmatan lil Muslimin saja.

Nurcholis Madjid menambahkan bahwa Islam Moderat juga menjunjung inklusivisme dan pluralisme. Secara sederhana, Islam moderat dimaknai sebagai aliran islam yang akomodatif, toleran, nirkekerasan dan berkembang.

Lalu tantangannya saat ini bagaimana agar konsep moderasi Islam tidak hanya tercantum diatas kertas putih dan dijadikan materi dalam acara-acara diskusi atau seminar. Sehingga Moderasi Islam bukan hanya sekedar opini atau bahkan asumsi untuk menjawab dan menumbangkan aliran-aliran ekstrem yang melabeli diri mereka dengan label Islam.

Dunia Pendidikan khususnya pedidikan Islam dapat dijadikan salah satu media penanaman dan pelestarian ajaran dan nilai-nilai Moderasi Islam, mengingat pendidikan dari jenjang yang paling rendah sampai jenjang perguruan tinggi memiliki andil dan peranan yang sangat besar dalam menyiapkan dan menyampaikan manusia menuju kehidupan yang lebih baik.

Hal tersebut juga tidak lepas dari peran aktif lembaga pendidikan (sekolah) sebagai  salah satu dari Tri Pusat Pendidikan. Sekolah menjadi  salah satu media pendidikan yang proporsional dan ideal karena cakupannya lebih luas dari rumah dan menjadi tempat mempersiapkan bibit unggul untuk diterjunkan langsung di tengah masyarakat.

Oleh karena itu, sekolah atau lembaga Pendidikan menjadi salah satu lahan subur untuk menanamkan nilai-nilai kemoderatan Islam, menyiapkan dan mencetak generasi muslim moderat yang memiliki kesiapan yang matang untuk melawan dan membasmi faham-faham radikalisme dan ekstrimisme lainnya.

Pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan islam tertua di Indonesia yang telah eksis sejak abad ke 16 menjadi salah satu pioner dalam menerapkan nilai-nilai kemoderatan Islam di Indonesia.  Walaupun term dan gagasan Moderasi Islam baru muncul dan mencuak pada abad ke 19-20, Pesantren telah mempresentasikan kemoderatan dalam aktifitas pendidikan dan keseharian santri-santrinya. Hal ini dapat terlihat dari beberapa hal mendasar sebagai berikut:

Semenjak awal kemunculannya sebagai lembaga pendidikan Islam, pesantren telah menyuguhkan sebuah karakter yang apresiatif dan inklusif terhadap kebudayaan dan kearifan local yang sudah terlebih dahulu tumbuh dan berkemban dengan warna dan corak agama Hindhu dan Budha. Pesantren hadir di tengah kentalnya kepercayaan masyarakat terhadap Animisme dan Dinamisme.

Namun, dalam menyebarkan dakwah Islam melalui Founding Fathers  dalam konteks ini para Wali Songo, pesantren tidak lantas menghapuskan atau menghilangkan bahkan mengkafirkan kebudayaan dan kearifan local masyarakat yang sudah terlanjur mendarah daging. Mereka mengisinya dan mewarnainya dengan spirit dan nilai-nilai keislaman, sehingga terciptalah suatu produk keagamaan dari perpaduan antara nilai-nilai keislaman dan kebudayaan masyarakat setempat.

Hasil dari akulturasi antara Islam dan kearifan lokal masayarakat masih dapat kita jumpai dan kita praktekkan sendiri sampai saat ini. Diantaranya adalah Tahlilan, Sekaten dan pertunjukan Wayang yang telah dimodifikasi dan diisi dengan ajaran agama Islam oleh Sunan Kalijaga. Produk-produk tersebut saat ini telah menjelma sebagai suatu kebudayaan dan tradisi dalam agama Islam di Indonesia.

Pesantren juga mengajarkan sebuah pemahaman keagamaan yang toleran dan sangat inklusif kepada para santri. Pesantren tidak pernah mengajarkan sebuah ajaran keagamaan yang  fanatik, esklusif atau bahkan ekstrem. Misalnya dalam mepelajari dan memahami Fiqih Islam misalnya, pesantren tidak memberikan pemahaman mono madzhab terhadap para santrinya, namun pesantren juga mengajarkan pemahaman multi madzhab terhadap santri-santrinya. Mereka diajarkan kitab Mereka diajarkan kitab Fiqih Islam wa Adillatuhu dan Bidayatul Mujtahid karya Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili dan Ibnu Rusyd  yang mengajarkan tentang fikih perbandingan antar madzhab.

Idealisme yang ingin dicapai oleh pesantren adalah terciptanya output santri yang memiliki pemahaman yang universal, inklusif dan toleran terhadap perbedaan-perbedaan yang terjadi dikalangan ulama madzhab. Kita masih ingat betul gab yang terjadi antar sesama muslim yang hanya disebabkan oleh pembacaan qunut ketika solat subuh. Baik pihak yang membaca maupun yang tidak membaca sama-sama merasa apa yang mereka lakukan adalah yang paling benar, bahkan dalam kasus tertentu ada bahkan yang merasa risih ketika ada seorang yang “tidak sepaham” shalat dalam satu masjid.

Fenomena tersebut berangkat dari pemahaman yang sempit, esklusif dan intoleran dalam menginterpretasi hukum-hukum Islam. Oleh karena itu, memberikan pemahaman keagamaan yang terbuka, plural dan toleran dapat menjadi salah satu solusi dalam menangkal esklusifitas dan intoleransi dalam beragama.

Dari sini dapat terlihat bagaimana Pesantren telah menanamkan benih-benih kemoderatan Islam kepada santri-santrinya dengan secercah harapan dari hasil pendidikan tersebut dapat mencetak bibit-bibit santri yang tidak hanya mutafaqquh fiddin namun juga memiliki pemahaman dan pemikiran moderat, toleran, inklusif dan tidak mudah mendiskreditkan atau bahkan mengkafirkan orang atau golongan lain yang tidak sesuai dengan pemikiran dan pemahamannya.

Langkah sederhana pesantren dalam membangun kesadaran dan pemahaman tentang nilai-nilai wasathiyah Islam perlu ditiru dan disempurnakan kembali oleh lembaga-lembaga pendidikan Islam lainnya, sehingga dari langkah sederhana tersebut akan tercipta sebuah peradaban baru yang akan lebih menampakkan wajah kemoderatan dan kedamaian Islam.

Nur Holis, Mahasiswa Semeseter III Program Studi Bisnis Islam IDIA Prenduan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.