Sel. Mei 28th, 2024

Menyantrikan Diri di Era Modern

4 min read

sumber ilustrasi: islami.co

Masa jahiliyah adalah sejarah kelam bangsa Arab sebelum kedatangan Nabi Muhammad SAW. Pada masa itu masyarakat Arab sangat mentuhankan kehidupan duniawi. Mereka mengisi kehidupan dengan aktivitas-aktivitas yang bertolak belaka dengan ketauhidan. Menyembah berhala, meminum minuman keras, berjudi bahkan tanpa belas kasih orang-orang pada masa itu rela menukarkan nyawa setiap bayi Wanita demi sebuah “harga diri dan popularitas” di mata kaum mereka. Membiarkan bayi wanita tetap hidup adalah sebuah aib yang berdampak hilangnya kehormatan mereka di muka umum.

Berdasarkan fakta ini, maka rasanya masa sekarang telah memasuki kembali sejarah kelam itu. Dunia mulai menjahiliyahkan penduduknya dengan segala hal-hal keduniaan yang dianggap sebagai sumber kehidupan yang abadi.  Mereka sebenarnya mengakui adanya tuhan, namun generasi milenial tetap mencari sesembahan-sesembahan lain dan menjadikannya sekutu bagi Tuhannya .

Ruh remaja  masa kini dipenuhi ambisi untuk mendapatkan kepuasan dunia dengan cara yang instan. Mereka mulai mencari sesembahan-sesembahan lain untuk memuaskan diri dan memoles diri agar popularitasnya diakui oleh banyak orang. Sesembahan itu bukan hanya digunakan untuk mempercepat kesuksesan, namun juga dipakai untuk menebar kebencian, mengadu domba dan mengaburkan mana yang benar mana yang salah.. 

Gadget sepertinya menjadi sesembahan paling populer di jaman jahiliyah sekarang, alat ini mampu membuat manusia membentuk dunianya sendiri, mereka menjadikan gadget sebagai sumber kebahagiaan dan sebagian orang menjadikannya sebagai sumber penghasilan. Bahkan gadget juga digunakan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab untuk menjahiliyahkan banyak orang dan membuat mereka sibuk pada “dunia maya” dan lupa akan realitas kehidupan yang harusnya mereka jalani dan hadapi, bukan hanya berdiam diri memandangi layar gawai.

Negeri kita tercinta ini sepertinya harus tanggap dalam mengatasi kondisi ini. Para pemuda kita sepertinya harus mulai bangun dari tidur panjangnya dan mulai memperbaiki negeri ini. Tentunya hal tersebut harus dimulai dengan langkah kecil namun memiliki tujuan yang pasti.

Mereka harus mulai dialihkan dari sesembahan-sesembahan tersebut dan menumbuhkan generasi-generasi yang berkualitas dan berjiwa Muhammad Al-Fatih sang penakluk konstantinopel yang mewujudkan bisyarah penaklukan kota ini.

Konstantinopel adalah kota terbesar dan terkaya di dunia selama kekaisaran Romawi Timur, posisinya yang strategis karena berada di jalur utam perdagangan antara laut Aegaen dan laut Hitam menjadikannya sebagai salah satu  kota besar dengan benteng terkuat di dunia saat itu, dikelilingi lautan dari tiga sisi sekaligus, yaitu selat Bosphorus, Laut Marmara dan Teluk Tanduk Emas (Golden Horn Bay). Begitu pentingnya posisi konstantinopel sehingga digambarkan oleh Napoleon Bonaparte dengan pernyataan, “if the earth were single state, Constantinople would be its capital

Muhammad Al-Fatih, sejak kecil ia telah dididik oleh ulama-ulama besar pada zamannya, khususnya Syaikh Aaq Syamsuddin yang tidak hanya menanamkan kemampuan Beragama dan ilmu Keislaman, namun juga membentuk mental pejuang dan penakluk pada diri Muhammad Al-Fatih. Maka tidak berlebihan jika mengatakan bahwa kejeniusan dan kehebatan Muhammad Al-Fatih tidak lepas dari didikan dan bimbingan Ulama atau guru kemudian didukung oleh lingkungan yang sangat kondusif dan steril dari anasir-anasir kehidupan dunia. Dalam budaya kita model pendikan seperti itu saat ini dikenal dengan istilah “pendidikan pesantren”

Muhammad Al-Fatih sadar bahwa dia memerlukan persiapan yang panjang dan perencanaan yang baik serta mempersiapkan orang-orang yang handal. Perjuangan ini tidak mudah, pertahanan konstantinopel tidak bisa ditembus dari jalur manapun sehinggan memundurkan semangan para kaum muslim saat itu.

Melalui diskusi yang sangat dalam, akhirnya Muhammad Al-Fatih menyampaikan pada pasukannya suatu rencana yang sangat fernomenal. Yaitu memasuki Teluk Tanduk Emas yang dirantai dengan rantai raksasa dengan memindahkan kapal-kapalnya melalui bukit Galata sejauh 1,5 km. maka dengan keyakinan untuk menaklukkan kontantinopel, 72 kapal dipindahkan dari selat Bosphorus menuju teluk tanduk hanya dalam waktu semalam. Dengan taktik inilah, maka jalan mereka untuk menaklukkan Konstantinopel pun menjadi kenyataan.

Kita membutuhkan generasi yang bisa mengolah sumber daya semaksimal mungkin untuk meningkatkan perekonomian Indonesia dan menundukkan bangsa-bangsa lainnya .  Sebenarnya ada satu kekuatan yang sedang dipupuk di Indonesia dimana kita tidak akan menemukannya di belahan bumi manapun.  Indonesia mempunyai banyak peluang besar untuk menghasilkan Muhammad Al-Fatih masa kini yang siap bertempur di tengah kalutnya era modernisasi dan globalisasi.

Pesantren dapat memberikan jawaban atas problema yang tengah menimpa negeri ini. Dengan system dan model pendidikannya yang khas, memadukan antara pendidikan spiritual, intelektual dan emosional. Sehingga pesantren tidak hanya menghasilkan produk yang tidak hanya memiliki intelektual yang tinggi namun juga memiliki spiritualitas yang dalam dan emosi yang stabil. Muhammad Al-Fatih adalah salah satu Master Piece dari model pendidikan pesantren pada masa lampau. Dididik dengan model pendidikan yang seimbang dan proporsional dengan dukungan lingkungan pendidikan yang kondusif menjadikan Muhammad Al-Fatih sebagai pejuang yang siap bertempur membela dan menegakkan agama dan memajukan kehidupan Bangsa.

Santri- adalah gabungan dari huruf sin, Nun, Ta’, Ra’, dan ya’ yang mempunyai arti tersendiri. Sin artinya salik ilal-akhirah (menempuh jalan spiritual menuju akhirat), Nun maknanya Na-ib ‘anil-masyayikh (penerus para guru), Ta’ maksudnya Tarik ‘anil Ma’ashi (meninggalkan maksiat), Ra’ akronim dari raghib ilal-Khayr (selalu menghasrati kebaikan) dan Ya’ adalah singkatan dari yarjus-Salamah (optimis terhadap keselamatan, lima falsafah itulah yang mengaruskan santri untuk menempa diri dan mengasah mental, mencuci lumut dalam jiwa, menghancurkan batu dalam dada, meruntuhkan ego dan banalitas sikap, serta menghapus kedangkalan pola pikir dan segala bentuk kekerdilan lain. 

Maka investasi ini, tentunya harus disadari betul oleh pemerintah dan tidak hanya dipandang sebelah mata atas semua kontribusi mereka persembahkan kepada Negara. Hari santri mengingatkan kita bahwa generasi Indonesia harus menjadi santri atau setidaknya memilki jiwa “santri” dengan segala keserhanaan, keikhlasan dan tanjung jawabnya yang akan terus dibawanya dan diembannya. Kita mengerti, bahwa memperbaiki negeri harus dimulai dari memperbaiki generasi muda.

Nur Holis, Wakil Ketua AJMI IDIA Prenduan

Tulisan ini telah dipublikasikan di Jawa Pos-Radar Madura 21 Januari 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.