Sab. Jun 22nd, 2024

MEMBACA PESAN SOSIAL DALAM PUISI “COPET SIAL”

3 min read

Puisi selalu identik dengan makna dan estetika. Karena itu, seorang penyair selalu dituntut untuk memaknai pengetahuannya dan menyampaikannya secara estetis dalam bentuk puisi yang utuh. Selanjutnya, penyair yang serius akan mempublikasikan kumpulan puisinya sebagai potret dan konsepsi tentang sesuatu.  

Tuntutan itu disambut oleh Fajrus Shiddiq dalam antologi puisi copet sial yang diterbitkan oleh Kota Tua awal 2019. Dalam buku puisi ini, penyair berusaha menghadirkan puisinya dalam beberapa bagian. Bagian-bagian itu menggambarkan bahwa proses kreativitas penyair selalu berbeda-beda. Perbedaan itu bukan sebagai indikator kelemahan, tetapi untuk melahirkan identitas kepenyairannya.

Fajrus Shiddiq dalam antologi puisi “Copet Sial” nampak sangat berusaha untuk memberikan kesan dan pemaknaan akan realitas sosial dalam kehidupan yang ia jalani. Fajrus selalu mencoba memotret sisi kehidupan dengan banyak aspek yang ia wakilkan melalui estetika puisinya. Misalnya, ketika sang penyair merantau, dia maknai perantauan itu dengan sangat dalam. Dalam perantauan, dia temukan bahwa dirinya hilang di warung kopi. Artinya warung kopi telah membuat si aku merasa terculik dengan bahagia. Pak, Mak./ Mimpiku hilang di warung kopi/Sehabis berteman tuan rumah/Yang tanahnya mulai dijarah/Lapaknya tak pernah sepi/Sekarang bicaraku tak lagi senada, Pak. (hlm. 24)

Puisi itu sepertinya bicara perantauan, tetapi ternyata juga bicara tentang kepedihan dan penindasan kepada si pemilik warung kopi.

Dengan buku kumpulan puisinya ini, Fajrus mencoba untuk menata bebas kata-katanya untuk mewakili perasaan Fajrus sebagai media meluapkan perasaan yang saat itu terjadi ke dalam puisi-puisinya. Sebagaimana dalam cuplikan kata yan sengaja ia tulis dalam judul puisi “Copet Sial”. Duhai pekat malam yang mengalirkan kekuatan/Curahkan azimatmu lekat seluruh badan/Abrakadabra, jadi tak terlihat/Bisa lah menerabas Pukat. (hlm. 95)

Dalam pemaknaan puisi ini, Fajrus berusaha mencurahkan segala luapan gejolak perasaanya. Ia menengadah, memohon curahan kebebasan. Dalam hal ini ia berusaha untuk mengungkapkan dirinya yang menginginkan kebebasan, mengembara hidup tanpa latar belakang latar kehidupan yang mengekang adanya kebebasan.

Jika seorang Chairil Anwar menisbahkan dirinya sebagai “binatang jalang”, yang ingin “hidup seribu tahun” sebagai tanda bahwa ia tak ingin di rengkuh oleh kekangan dan penindasan. Beda rupanya dengan seorang Fajrus dalam puisinya ‘copet sial’. Ia berusaha menggambarkan kebebasan dengan berusaha untuk menyiratkan makna terdalam pada kumpulan puisinya. Ia senantiasa berusaha mengamati relitas kehidupan yang ada, lantas memaknai itu semua untuk merasuki kalbu menjadi kumpulan larik-larik perasaan yang tersampaikan.

Dalam menajamkan kepenyairanya, ia berusaha mengikat, menyatu, menyimpan kata-kata menjadi uraian kalimat esensial penuh warna. Begitulah fajrus shiddiq berusaha merasuki penikmat puisinya menuju jiwa-jiwa pengagung keindahan.

Dalam buku kumpulan puisi ini, Fajrus membagi kumpulan puisinya dengan penanda tahun-tahun, seharusnya Fajrus membagi kumpulan puisi nya dengan memberi makna melalui pemilihan judul puisi yang mewakili dari masa ke masa.

Keberadaan buku kumpulan puisi ini menjadi esentitas yang sangat penting. Tak hanya pemaknaan puisi nya yang selalu tersampaikan dengan baik, lebih dar itu dalam buku kumpulan puisi ini Fajrus menghadirkan puisi-puisi yang sarat dengan makna melalui penyampaian Bahasa yang mudah untuk dipahami. Maka sudah lazim nya buku ini dihadirkan kepada khalayak sebagai bahan konsumsi yang renyah, atas siapapun yang setia menggandrungi dunia literasi, khususnya puisi.

Tak hanya itu buku yang berukuran 13cm X 20cm ini sangatlah ideal untuk menemani aktivitas-aktivitas literasi, terutama untuk mereka yang ingin menafsirkan realitas sosial secara estetik. Dengan adanya ukuran buku yang ideal membuat para pembaca mempunyai teman setia dalam hari-harinya.



ISBN                  : 978-602-5699-60-3

Penulis              : Fajrus Shiddiq

Judul                 : Copet Sial

Penerbit            : Kota Tua

Tahun Terbit    : 2019

Cetakan             : Pertama

Tebal Buku       : Hal xvi +110

Ukuran              : 13cm X 20cm

Ahmad As’ad Abdul Aziz, Aktivis Literasi AJMI di Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Tulisan ini pertamakali terbit di Jawa Pos-Radar Malang pada 14 Juli 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.